Tanggung jawab...ya, setiap orang tanpa terkecuali sudah diberikan dari sananya sebuah tanggung jawab. Baik itu tanggung jawab yg bernilai besar ataupun tanggung jawab yg paling simpel yakni pada dirinya sendiri. Namun, tanpa disadari ataupun sangat disadari, masih banyak orang yang menganggap/merasakan sebuah tanggung jawab itu adalah suatu beban dalam kehidupannya. Yang, mau tidak mau harus dipanggulnya. Oleh karenanya, mungkin banyak orang juga yang ingin sekali melepaskan 'beban'-nya tersebut.
Padahal, tanggung jawab, pada hakikinya bukanlah suatu beban. Setiap hal pasti punya 2 sisi.
Jadi janganlah hanya membaca dari satu sisi saja, tetapi, lihatlah juga sisi satunya. Hidup adalah yin dan yang. Sehingga, bila kita mau melihat dari sudut pandang satunya, tanggung jawab justru sebuah 'kepercayaan' yang sifatnya erat dengan anugerah. Yang Kuasa telah memberikan 'kepercayaan'-NYA kepada kita, berarti kita dianggap telah sangat 'capable' atau mampu untuk menjalaninya.
Bagi orang-orang yang tidak menyadari bahwa tanggung jawab adalah suatu anugerah 'kepercayaan' akan selalu merasa terbebani dalam setiap hal yang menuntut tanggung jawab. Dan, hal tersebut termasuk dalam soalan-soalan kecil dalam hidup juga. Contoh yang paling simpel, dalam pekerjaan di kantor sehari-hari, tidak semua orang memiliki keberanian untuk mempertanggungjawabkan apa yg telah diperbuat. Misalnya, keputusan yg teryata dirasakan kurang begitu tepat bagi perusahaan atau dirasakan tidak pas bagi departemen lain. Nah, orang yang tersangkut tanggung jawab tersebut, justru menyalahkan pihak-pihak lainnya lagi guna menutupi kesalahan ataupun kekurangannya sendiri. Bukankah seharusnya, ia dengan segala keberanian mengakui kekurangan/kesalahan prediksi yang telah ia lakukan sambil memberikan solusi terbaru menanganinya. Bukannya malah bersembunyi dengan menuding pihak lain.
Sebagai contoh lainnya lagi saya ingin mengambil kisah yg sering terjadi dalam kehidupan siapa saja. Misalnya antara orang tua dan anak. Orang tua selayaknya orang tua dari anak-anak mereka seringkali merasa diri mereka 'yang paling' benar, paling tahu, paling tidak salah, paling...paling dan paling... Sedangkan si anak menurut orang tua, dianggap masih ingusan, selalu salah bila tidak sejalan dengan orang tua, salah jalan bila tidak mendengarkan orang tua, pemberontak bila berani menyatakan tindakannya benar. Lalu, apa hubungannya dengan tanggung jawab yg saya jabarkan diatas tadi?
Orang tua memiliki tanggung jawab luar biasa besar, sebab telah mendapatkan 'kepercayaan' untuk menjalaninya. Dan, orang tua juga manusia (mengutip sebuah lagu), yang bisa saja khilaf, hilang kendali, juga melakukan kesalahan kesalahan pada anak-anak mereka. Nah, yang menjadi pemikiran adalah kenapa orang tua (khususnya di negara asia) tidak pernah mau mengakui kesalahan kepada anaknya dan meminta maaf. Karena tanggung jawab setelah melakukan kesalahan, adalah dengan mengakuinya, meminta maaf dan menyesalinya.
Contoh diatas berlaku juga untuk para atasan & karyawannya ditempat kerja. Kenapa? Sebab atasan tidak selalu benar. Bos juga manusia kan?! Namun, yah, namanya jg atasan, tidak mau dong merasa salah. Malu aahhh...masa ketahuan salahnya sih di depan anak buah :) Inilah yang sering menyebabkan hubungan pekerjaan yang menyangkut tanggung jawab secara penuh menjadi tidak berjalan dengan baik. bawahan merasa kok sepertinya atasannya tidak menghargainya, dan kenapa bawahan selalu salah sedangkan atasannya tidak pernah mau mengakui kesalahannya secara 'gentle'.
Jadi, kesimpulan uraian-uraian tulisan saya diatas adalah, marilah sebagai manusia, kita menyadari, menerima dan menjalankan segala bentuk tanggung jawab yg telah 'dipercayakan' kepada kita. Jangan hanya menyadari lalu merasa terbebani. Jangan hanya menyadari saja, lalu lari darinya. Ataupun jangan hanya menjalaninya setengah saja, dan setengahnya lagi ditinggalkan/pura-pura lupa.
Segala sesuatu harus dilakukan secara penuh. 100% tidak lebih dan tidak kurang. Semuanya harus pas. Dan, tidak mungkin semua orang telah melakukannya, dan memang tidak mudah melakukannya secara penuh. Namun, sebagai manusia, kalau kita menyerah namanya menyerah pada diri sendiri. Belajar dan belajar untuk mencapai 100% tadi. Mari bersama mulai belajar mengenai tanggung jawab secara penuh dan menjalaninya untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.
Bagaimana dengan Anda?
[am]
April 03, 2008
Quality of Life
Beranikah Anda Sukses?
Bila kita mendengar kata sukses ataupun kesuksesan, terkadang sudah membuat bulu kuduk bergidik. Bukan karena menyeramkan seperti melihat hantu di siang bolong, tapi lebih kepada perasaan sugesti diri kita sendiri tentang kebesaraan makna yang terkandung didalamnya.
Suskes, bagi sebagian banyak orang hanyalah
impian belaka, angan-angan ataupun jauh dari pikiran. Tapi tidak sedikit juga orang-orang yang terus memenuhi dirinya dengan berbagai macam “kesuksesan” dalam hidup.
Saya sendiri, terkadang sering bertanya-tanya dalam hati, “kapankah gue bisa sukses?” ataukah, kenapa ya kok gue belum sukses, apakah ada yang kurang atau belum gue jalani dalam kehidupan ini…Demikian penggalan kebingungan yang lumayan sering saya alami.
Padahal, sukses itu sendiri adalah suatu hal yang tidak perlu kita takuti, sesuatu yang sangat besar yang sangat sulit untuk diraih. Kesuksesan itu ada di depan mata kita setiap detiknya. Hanya saja, sebagai manusia, kita sering dibutakan oleh berbagai hal yang terjadi di seputaran diri kita yang justru menjauhkan kita dari si “kesuksesan” tadi. Misalnya, terlalu disibukkan dengan urusan politik dan gossip yang hilir mudik dikantor. Dipusingkan oleh rekan kerja yang tidak menyenangkan sampai pada dibuat jungkir balik oleh perasaan benci pada atasan sendiri.
Semua perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran tersebut, sebenarnya justru membuang energi besar yang ada dalam diri kita. Yang kemungkinan bila kita arahkan atau belokkan untuk kepentingan diri kita sendiri, kemajuan diri kita, dampaknya akan sangat besar sekali. Misalnya saja, Anda bisa memikirkan bagaimana menghasilkan tambahan diluar sebagai karyawan, ataupun melakukan hal-hal yang Anda sukai dan bermanfaat bagi banyak orang. Seperti sahabat-sahabat saya yang memiliki blog sendiri, dan memenuhinya dengan berbagai tulisan yang sangat menginspirasi. Ada juga teman saya, yang memanfaatkan blog-nya untuk menjual barang-barang bermerek ataupun yang berkualitas KW (mirip dengan aslinya) dengan harga yang tergolong murah meriah.
“Aah peduli setan” kata salah satu teman saya, menanggapi berbagai persoalan yang tergolong urusan personal di dalam kantornya. “Yang penting, gue kerja bagus, tidak buat salah, selalu memberikan yang terbaik, urusan bos rese, temen kantor yang nyebelin sampai management yang sok berkuasa, bodo amat lah…Hidup itu penuh dengan hal-hal indah lainnya kok…” celotehnya.
Urusan-urusan yang menurut saya “tidak penting” itulah yang seringkali menyita energi seseorang begitu hebatnya. Dan, disisi lainnya, menggantikan energi positif ke energi negatif yang pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri.
Memang sih, tidak bisa dipungkiri juga, kalau terkadang kita dibuat sangat bĂȘte ataupun kesal dengan ulah serta kejadian di seputar urusan pekerjaan kita. Sampai ubun-ubung mungkin J nah, jangan berlama-lama kesalnya. Segeralah sadar, dan mulai memikirkan yang indah-indah yang dapat Anda lakukan dalam hidup Anda. Karena, siapa lagi yang bisa mewarnai hari-hari Anda mendatang kalau bukan Anda sendiri. Bagaimana menurut Anda?
Dan, jangan saja HANYA membayangkan, namun, Anda juga harus dapat merealisasikan mimpi-mimpi Anda tersebut. Impian akan jadi kenyataan dengan tangisan dan kucuran darah penghabisan, tapi, hasilnya akan bisa membuat Anda tersenyum lebar. Karena Tuhan akan menjadikan segalanya indah pada waktunya. Lalu, apakah kita sebagai manusia bisa terus berusaha dan sabar hingga waktunya tiba? Semuanya tergantung pada Anda sendiri. Bagi saya? Harus! Karena seperti pepatah: berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit dahulu dan….silakan teruskan sendiri ya J
Contohnya adalah kakak ipar saya sendiri. Ia adalah seorang pegawai swasta di bilangan karawaci, sebelum ia memiliki bisnis sendiri. Setiap hari adalah untaian mimpi indah yang terjalin dari hasi l pemikiran-pemikirannya. Tak berhenti sampai urusan mimpi saja, iapun mengumpulkan keberaniannya untuk mulai berdiri sendiri, alias berwirausaha. Jadi, iapun mulai membangun dari kecil usaha pulsa & software-nya. Yang singkat cerita, akhirnya iapun terbebas dari kantornya dan menjadi seorang wirausaha yang perlahan namun pasti, menghantarkannya pada kesuksesan.
Mengutip dari kata-kata Jennie S. Bev lagi bahwa sukses itu mindset, bukan suatu perjalanan ataupun destination. Jadi, sukses menurut saya pribadi, bukan hanya sekedar punya rumah mewah seperti istana, punya pom bensin 10 buah, punya real estate dimana-mana atau bisa punya mobil mercy 15 buah. Memang, itu juga bisa dikategorikan kedalam sebuah kesuksesan. Namun, sukses sendiri memiliki arti yang “beyond” all those things.
Sukses dalam hidup adalah ketika kita bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam diri kita dengan mengerjakan/melakukan hal-hal yang sangat kita cintai. Sukses itu adalah bila kita sampai pada satu tahap untuk berani melakukan suatu hal yang memang kita inginkan (dalam hal positif), sampai bila kita dapat menyumbangkan/memberikan makna bagi kehidupan orang-orang terdekat apalagi dapat berguna untuk orang banyak.
Nah, bagi Anda sendiri, apa arti sukses itu?
Jadi, saat ini menurut saya, saya adalah sukses. Sukses walaupun belum menjadi seorang bos di perusahaan bonafit. Sukses walaupun belum memiliki rumah mewah dan mobil mercy. Sukses walaupun belum dikaruniai seorang anak dari 2 tahun pernikahan saya. Sukses walaupun bukan bagian dari klub orang-orang kaya di negeri ini.
Lalu apa ya "sukses" saya?
Saya adalah sukses, karena saya memiliki keluarga bahagia, sukses karena saya dan suami saya diberikan keberanian untuk memulai usaha dari nol. Sukses karena saya dikelilingi oleh sahabat-sahabat ataupun teman-teman yang terus memberikan semangat dan dukungan. Sukses karena saya bisa terus memutar terus penghasilan saya bersama suami sehingga tidak kekurangan. Sukses, karena anak buah saya & suami memiliki semangat yang sama untuk membangun tempat servis kendaraan yang kami miliki bersama (Super Servis). Sukses, karena mereka mau bekerja keras bersama sesuai keahlian mereka masing-masing. Dan, banyak lagi suksesnya. Termasuk yang utama Sukses karena saya tahu Tuhan mengasihi saya dengan caranya yang luar biasa.
Marilah kita memulai, bagi yang belum memiliki, dan meneruskan dengan penuh keberanian bagi yang sudah memulai tapi masih ragu ataupun takut, semua mimpi-mimpi indah yang terbersit ataupun telah ada di dalam diri Anda. Karena, sekali lagi, sukses adalah mindset (Jennie.S.Bev).
So, don’t wasting your time. Start now!
[am]
Artikel saya ini telah dimuat di web andriewongso.com per tgl 19 Maret 08
Yang Muda Yang Dipercaya
"Few things help an individual more than to place responsibility upon him and to let him know that you trust him."
Booker T. Washington
"Those who trust us, educate us."
George Eliot
Apakah Anda masih ingat pada sebuah iklan yang menggambarkan seorang bos berkumis tebal terpampang dibeberapa spot papan iklan beberapa watu lalu?. Pada gambar iklan tersebut dapat dilihat dengan jelas, seorang bos berumur setengah baya, berkumis tebal dan rambut yang sedikit botak, sedang memegang kayu wayang.
Dan, wayang tersebut digambarkan seorang yang masih muda. Yang mengikuti gerakan arahan dari sang "dalang". Ya, gambar iklan tersebut menceritakan seorang atasan yang sedang memainkan "wayang" goleknya yang masih muda, yaitu bawahannya sendiri. Yang lebih muda yang tidak dipercaya, begitu bunyi tagline-nya.
Begitu banyak cerita tentang generasi muda yang belum atau bahkan tidak mendapat
kepercayaan dari para pimpinannya sama sekali. Dari 15 orang yang saya telah survey sebelumnya, 10 dari mereka mengeluhkan tidak pernah dipercaya untuk mengerjakan sebuah pekerjaan sendiri.
Mengapa demikian? Mungkin anggapan bahwa yang muda itu belum matang, atau, yang muda itu tidak pintar, belum dapat mengambil keputusan dengan benar, belum bijaksana dalam menangani suatu permasalahan apalagi menyelesaikannya. Tapi, apakah benar demikian? Bagaimana menurut Anda?
Hal yang menyangkut masalah "ketidakpercayaan" ini tidak hanya terjadi dalam tangkup pemerintahan saja, namun, juga terjadi dalam dunia kerja. Ketidakpercayaan yang terangkum dalam rasa "ketakutan" dari para atasan di tempat kerja.
Ketakutan pekerjaan yang didelegasikan tidak dijalankan dengan baik, ketakutan bawahannya yang tidak cakap, ketakutan akan nama baik yang tercoreng akibat ketidakbecusan bawahan bekerja, dan masih banyak lagi.
Lalu, bagaimana dengan ketakutan tersaingi bawahannya sendiri, terutama bila bawahannya masih berusia muda?
Sepupu saya, Rita, sering mendapat tekanan dari manajernya sendiri, karena di usianya yang masih muda, yakni 23 tahun, ia sudah berhasil bekerja dengan menunjukkan kemampuannya yang baik. Berhasil menyelesaikan setiap challenge (tantangan) yang diberikan direktur tempat ia bekerja. Tentu saja hal ini membuat manajernya kalang kabut, takut posisinya tergeser oleh Rita. Setiap informasi penting, yang berasal dari direktur, tidak pernah disampaikan ke Rita oleh manajernya itu.
"Jadi, manajerku itu sengaja lho mbak, mem-blok setiap informasi penting dari pak direktur," ujarnya suatu siang kepada saya. "Lha, kenapa kok segitunya, sih?" pertanyaan heran saya kepadanya. "Nah, itu dia yang saya juga bingung, padahal kan saya juga gak kepingin ngerebut kursi kepemimpinannya. Dan, pak direktur juga tahu kalau kapasitas kemampuan saya masih harus dikembangkan lagi," katanya menambahkan.
Kendala macam ini, hebatnya tidak membuat Rita patah semangat dan minder. Ia justru makin mengembangkan "skill" nya, dan selalu berusaha menghasilkan yang terbaik dari setiap pekerjaan yang dilakukannya. Ia terus berusaha menerima challenge dari direktur perusahannya.
Inisiatif mencari dan menggali informasi sendiri, terutama bila manajernya berusaha menghalanginya. Tetap tenang dan bersikap konsisten adalah kunci dalam menghadapi jegalan dari atasan ataupun rekan di tempat kerja.
Kata siapa yang muda, yang paling tidak dipercaya? Tunjukkan kualitas dan sikap yang baik di tempat kerja, membuktikan bahwa orang muda bisa diandalkan dan dipercaya. Terutama untuk menjalankan pekerjaan yang membutuhkan problem solving tinggi. Karena, yang muda yang berilmu.
Jadi, sudah siap menjadi orang muda yang dipercaya???
Tips menjadi "Yang Muda Yang Paling Dipercaya:
1. Gali dan asah terus skill Anda.
Jangan pernah malu untuk belajar, dari siapa saja, yang tua untuk belajar ilmu kebijaksanaanya dan dari yang muda untuk belajar semangat pantang menyerahnya.
2. Jangan pernah puas akan hasil yang telah dicapai.
Selalulah me review setiap pekerjaan yang telah Anda lakukan.
3. Tunjukkan kualitas diri Anda melalui setiap result yang Anda hasilkan. Keluarkan ide-ide Anda dalam forum ramai. Jangan pernah malu.
4. Jadilah manusia yang memiliki "inisiatif" tinggi. Jangan malas.
5. Mintalah kritik membangun dari rekan yang Anda percayai, atau jika memungkinkan dari teman Anda yang telah menduduki posisi atasan.
6. Curilah ilmu" sebanyak-banyaknya dari atasan Anda. Jangan buang kesempatan bila Anda memiliki atasan yang tidak "pelit" membagi ilmunya.
7. Bersemangatlah!
[am]
Artikel saya ini dimuat di www.andriewongso.com per tgl 16 Feb 08