April 03, 2008

Beranikah Anda Sukses?


Bila kita mendengar kata sukses ataupun kesuksesan, terkadang sudah membuat bulu kuduk bergidik. Bukan karena menyeramkan seperti melihat hantu di siang bolong, tapi lebih kepada perasaan sugesti diri kita sendiri tentang kebesaraan makna yang terkandung didalamnya.

Suskes, bagi sebagian banyak orang hanyalah

impian belaka, angan-angan ataupun jauh dari pikiran. Tapi tidak sedikit juga orang-orang yang terus memenuhi dirinya dengan berbagai macam “kesuksesan” dalam hidup.

Saya sendiri, terkadang sering bertanya-tanya dalam hati, “kapankah gue bisa sukses?” ataukah, kenapa ya kok gue belum sukses, apakah ada yang kurang atau belum gue jalani dalam kehidupan ini…Demikian penggalan kebingungan yang lumayan sering saya alami.

Padahal, sukses itu sendiri adalah suatu hal yang tidak perlu kita takuti, sesuatu yang sangat besar yang sangat sulit untuk diraih. Kesuksesan itu ada di depan mata kita setiap detiknya. Hanya saja, sebagai manusia, kita sering dibutakan oleh berbagai hal yang terjadi di seputaran diri kita yang justru menjauhkan kita dari si “kesuksesan” tadi. Misalnya, terlalu disibukkan dengan urusan politik dan gossip yang hilir mudik dikantor. Dipusingkan oleh rekan kerja yang tidak menyenangkan sampai pada dibuat jungkir balik oleh perasaan benci pada atasan sendiri.

Semua perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran tersebut, sebenarnya justru membuang energi besar yang ada dalam diri kita. Yang kemungkinan bila kita arahkan atau belokkan untuk kepentingan diri kita sendiri, kemajuan diri kita, dampaknya akan sangat besar sekali. Misalnya saja, Anda bisa memikirkan bagaimana menghasilkan tambahan diluar sebagai karyawan, ataupun melakukan hal-hal yang Anda sukai dan bermanfaat bagi banyak orang. Seperti sahabat-sahabat saya yang memiliki blog sendiri, dan memenuhinya dengan berbagai tulisan yang sangat menginspirasi. Ada juga teman saya, yang memanfaatkan blog-nya untuk menjual barang-barang bermerek ataupun yang berkualitas KW (mirip dengan aslinya) dengan harga yang tergolong murah meriah.

“Aah peduli setan” kata salah satu teman saya, menanggapi berbagai persoalan yang tergolong urusan personal di dalam kantornya. “Yang penting, gue kerja bagus, tidak buat salah, selalu memberikan yang terbaik, urusan bos rese, temen kantor yang nyebelin sampai management yang sok berkuasa, bodo amat lah…Hidup itu penuh dengan hal-hal indah lainnya kok…” celotehnya.

Urusan-urusan yang menurut saya “tidak penting” itulah yang seringkali menyita energi seseorang begitu hebatnya. Dan, disisi lainnya, menggantikan energi positif ke energi negatif yang pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri.

Memang sih, tidak bisa dipungkiri juga, kalau terkadang kita dibuat sangat bĂȘte ataupun kesal dengan ulah serta kejadian di seputar urusan pekerjaan kita. Sampai ubun-ubung mungkin J nah, jangan berlama-lama kesalnya. Segeralah sadar, dan mulai memikirkan yang indah-indah yang dapat Anda lakukan dalam hidup Anda. Karena, siapa lagi yang bisa mewarnai hari-hari Anda mendatang kalau bukan Anda sendiri. Bagaimana menurut Anda?

Dan, jangan saja HANYA membayangkan, namun, Anda juga harus dapat merealisasikan mimpi-mimpi Anda tersebut. Impian akan jadi kenyataan dengan tangisan dan kucuran darah penghabisan, tapi, hasilnya akan bisa membuat Anda tersenyum lebar. Karena Tuhan akan menjadikan segalanya indah pada waktunya. Lalu, apakah kita sebagai manusia bisa terus berusaha dan sabar hingga waktunya tiba? Semuanya tergantung pada Anda sendiri. Bagi saya? Harus! Karena seperti pepatah: berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit dahulu dan….silakan teruskan sendiri ya J

Contohnya adalah kakak ipar saya sendiri. Ia adalah seorang pegawai swasta di bilangan karawaci, sebelum ia memiliki bisnis sendiri. Setiap hari adalah untaian mimpi indah yang terjalin dari hasi l pemikiran-pemikirannya. Tak berhenti sampai urusan mimpi saja, iapun mengumpulkan keberaniannya untuk mulai berdiri sendiri, alias berwirausaha. Jadi, iapun mulai membangun dari kecil usaha pulsa & software-nya. Yang singkat cerita, akhirnya iapun terbebas dari kantornya dan menjadi seorang wirausaha yang perlahan namun pasti, menghantarkannya pada kesuksesan.

Mengutip dari kata-kata Jennie S. Bev lagi bahwa sukses itu mindset, bukan suatu perjalanan ataupun destination. Jadi, sukses menurut saya pribadi, bukan hanya sekedar punya rumah mewah seperti istana, punya pom bensin 10 buah, punya real estate dimana-mana atau bisa punya mobil mercy 15 buah. Memang, itu juga bisa dikategorikan kedalam sebuah kesuksesan. Namun, sukses sendiri memiliki arti yang “beyond” all those things.

Sukses dalam hidup adalah ketika kita bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam diri kita dengan mengerjakan/melakukan hal-hal yang sangat kita cintai. Sukses itu adalah bila kita sampai pada satu tahap untuk berani melakukan suatu hal yang memang kita inginkan (dalam hal positif), sampai bila kita dapat menyumbangkan/memberikan makna bagi kehidupan orang-orang terdekat apalagi dapat berguna untuk orang banyak.

Nah, bagi Anda sendiri, apa arti sukses itu?

Jadi, saat ini menurut saya, saya adalah sukses. Sukses walaupun belum menjadi seorang bos di perusahaan bonafit. Sukses walaupun belum memiliki rumah mewah dan mobil mercy. Sukses walaupun belum dikaruniai seorang anak dari 2 tahun pernikahan saya. Sukses walaupun bukan bagian dari klub orang-orang kaya di negeri ini.
Lalu apa ya "sukses" saya?

Saya adalah sukses, karena saya memiliki keluarga bahagia, sukses karena saya dan suami saya diberikan keberanian untuk memulai usaha dari nol. Sukses karena saya dikelilingi oleh sahabat-sahabat ataupun teman-teman yang terus memberikan semangat dan dukungan. Sukses karena saya bisa terus memutar terus penghasilan saya bersama suami sehingga tidak kekurangan. Sukses, karena anak buah saya & suami memiliki semangat yang sama untuk membangun tempat servis kendaraan yang kami miliki bersama (Super Servis). Sukses, karena mereka mau bekerja keras bersama sesuai keahlian mereka masing-masing. Dan, banyak lagi suksesnya. Termasuk yang utama Sukses karena saya tahu Tuhan mengasihi saya dengan caranya yang luar biasa.

Marilah kita memulai, bagi yang belum memiliki, dan meneruskan dengan penuh keberanian bagi yang sudah memulai tapi masih ragu ataupun takut, semua mimpi-mimpi indah yang terbersit ataupun telah ada di dalam diri Anda. Karena, sekali lagi, sukses adalah mindset (Jennie.S.Bev).

So, don’t wasting your time. Start now!

[am]

Artikel saya ini telah dimuat di web andriewongso.com per tgl 19 Maret 08

Read More......

Yang Muda Yang Dipercaya


"Few things help an individual more than to place responsibility upon him and to let him know that you trust him."
Booker T. Washington

"Those who trust us, educate us."
George Eliot

Apakah Anda masih ingat pada sebuah iklan yang menggambarkan seorang bos berkumis tebal terpampang dibeberapa spot papan iklan beberapa watu lalu?. Pada gambar iklan tersebut dapat dilihat dengan jelas, seorang bos berumur setengah baya, berkumis tebal dan rambut yang sedikit botak, sedang memegang kayu wayang.

Dan, wayang tersebut digambarkan seorang yang masih muda. Yang mengikuti gerakan arahan dari sang "dalang". Ya, gambar iklan tersebut menceritakan seorang atasan yang sedang memainkan "wayang" goleknya yang masih muda, yaitu bawahannya sendiri. Yang lebih muda yang tidak dipercaya, begitu bunyi tagline-nya.

Begitu banyak cerita tentang generasi muda yang belum atau bahkan tidak mendapat


kepercayaan dari para pimpinannya sama sekali. Dari 15 orang yang saya telah survey sebelumnya, 10 dari mereka mengeluhkan tidak pernah dipercaya untuk mengerjakan sebuah pekerjaan sendiri.

Mengapa demikian? Mungkin anggapan bahwa yang muda itu belum matang, atau, yang muda itu tidak pintar, belum dapat mengambil keputusan dengan benar, belum bijaksana dalam menangani suatu permasalahan apalagi menyelesaikannya. Tapi, apakah benar demikian? Bagaimana menurut Anda?

Hal yang menyangkut masalah "ketidakpercayaan" ini tidak hanya terjadi dalam tangkup pemerintahan saja, namun, juga terjadi dalam dunia kerja. Ketidakpercayaan yang terangkum dalam rasa "ketakutan" dari para atasan di tempat kerja.

Ketakutan pekerjaan yang didelegasikan tidak dijalankan dengan baik, ketakutan bawahannya yang tidak cakap, ketakutan akan nama baik yang tercoreng akibat ketidakbecusan bawahan bekerja, dan masih banyak lagi.

Lalu, bagaimana dengan ketakutan tersaingi bawahannya sendiri, terutama bila bawahannya masih berusia muda?

Sepupu saya, Rita, sering mendapat tekanan dari manajernya sendiri, karena di usianya yang masih muda, yakni 23 tahun, ia sudah berhasil bekerja dengan menunjukkan kemampuannya yang baik. Berhasil menyelesaikan setiap challenge (tantangan) yang diberikan direktur tempat ia bekerja. Tentu saja hal ini membuat manajernya kalang kabut, takut posisinya tergeser oleh Rita. Setiap informasi penting, yang berasal dari direktur, tidak pernah disampaikan ke Rita oleh manajernya itu.

"Jadi, manajerku itu sengaja lho mbak, mem-blok setiap informasi penting dari pak direktur," ujarnya suatu siang kepada saya. "Lha, kenapa kok segitunya, sih?" pertanyaan heran saya kepadanya. "Nah, itu dia yang saya juga bingung, padahal kan saya juga gak kepingin ngerebut kursi kepemimpinannya. Dan, pak direktur juga tahu kalau kapasitas kemampuan saya masih harus dikembangkan lagi," katanya menambahkan.

Kendala macam ini, hebatnya tidak membuat Rita patah semangat dan minder. Ia justru makin mengembangkan "skill" nya, dan selalu berusaha menghasilkan yang terbaik dari setiap pekerjaan yang dilakukannya. Ia terus berusaha menerima challenge dari direktur perusahannya.

Inisiatif mencari dan menggali informasi sendiri, terutama bila manajernya berusaha menghalanginya. Tetap tenang dan bersikap konsisten adalah kunci dalam menghadapi jegalan dari atasan ataupun rekan di tempat kerja.

Kata siapa yang muda, yang paling tidak dipercaya? Tunjukkan kualitas dan sikap yang baik di tempat kerja, membuktikan bahwa orang muda bisa diandalkan dan dipercaya. Terutama untuk menjalankan pekerjaan yang membutuhkan problem solving tinggi. Karena, yang muda yang berilmu.

Jadi, sudah siap menjadi orang muda yang dipercaya???

Tips menjadi "Yang Muda Yang Paling Dipercaya:

1. Gali dan asah terus skill Anda.
Jangan pernah malu untuk belajar, dari siapa saja, yang tua untuk belajar ilmu kebijaksanaanya dan dari yang muda untuk belajar semangat pantang menyerahnya.
2. Jangan pernah puas akan hasil yang telah dicapai.
Selalulah me review setiap pekerjaan yang telah Anda lakukan.
3. Tunjukkan kualitas diri Anda melalui setiap result yang Anda hasilkan. Keluarkan ide-ide Anda dalam forum ramai. Jangan pernah malu.
4. Jadilah manusia yang memiliki "inisiatif" tinggi. Jangan malas.
5. Mintalah kritik membangun dari rekan yang Anda percayai, atau jika memungkinkan dari teman Anda yang telah menduduki posisi atasan.
6. Curilah ilmu" sebanyak-banyaknya dari atasan Anda. Jangan buang kesempatan bila Anda memiliki atasan yang tidak "pelit" membagi ilmunya.
7. Bersemangatlah!

[am]

Artikel saya ini dimuat di www.andriewongso.com per tgl 16 Feb 08

Read More......

April 02, 2008

Reach a Better Life by Doing Good


Building good character values makes us better and stronger to face life's challenges. Life can be a long hard road with twists and turns ups and downs. Building good character values helps prepare us for that.


When we face life and don't have good character values we can get swept up and knocked off our feet. Learning how to be respectful, responsible, kind caring, Trustworthy, being a good neighbor, being a good citizen. These all strengthen us and our values. We can start to become successful in our lives, but without following good character values it will only be a matter of time before we crash and burn. Then we have to start all over and work twice as hard to regain peoples trust and support. We are not perfect so as we work toward becoming a better person. Then we need to know that from time to time we will slip and let temptation or influence from others get the best of us.


That is normal but then recognizing that you made a mistake and getting yourself back on track is really important, because you don't want this to become your norm. Respect is just treating others how you want to be treated and also realizing that not everyone is like you. There are differences in race, religion, nationalities and accepting and respecting others for who they are and where they come from goes a long way to making the world a better place.


Being responsible is just accepting what your responsibilities are and making sure you are getting them done, and showing accountability for the quality of work you do.




Try not to just do what it is that you need to get by but try to go beyond that and do an exceptional job. Others will notice and you will feel great about your accomplishments.






[am]


taken from EZINE Articles

Read More......

Vigil of 10 Years May 1998 Tragedy-Indonesia

10 Years Humanity Tragedy of May 1998

Please kindly to participate and take action of Mei 1998 tragedy-10 years anniversary in Indonesia by sign the petition that will pass to president of Republik Indonesia.

Worldwide Vigil for Humanity, the 10th Commemoration of May 1998 Tragedy of Humanity in Indonesia

Background


“Around 11:30am, I saw several people of a large crowd hijacked a car and forced the passengers to come out of the car. They pulled two women out of the car and stripped them naked. They gang raped them. Those two girls tried to fight while shouting with fear, but failed,” said an eyewitness in Muara Angke, Jakarta on May 14, 1998.

Almost 100 Indonesian females of Chinese ethnicity suffered from sexual abuse and 1,339 Indonesians died during the tragedy of humanity May 13-15, 1998. Many deaths occurred in malls set on fire by the mobilized crowd. Shooting of four Trisakti University students occurred prior. The afternoon cloud of Jakarta went dark and the midnight sky went bright flaming red due to fires set ablazed. There were 5,723 properties, 1,948 private vehicles, and 516 public transportations costing inconceivable amount of casualties had resulted. Similar incidents also occurred in other cities simultaneously, such as Surabaya, Palembang, Solo, and Lampung (Jusuf, Timbul, Gultom & Frishka, 2007).

After ten years of May 1998 tragedy, we can still listen to cries from victims’ families, “My heart is hurt. My life doesn’t mean anything, void. Until the end of time, I won’t forget how such inhumane incident that has cost my son’s life. He was accused as a rioter, but he was actually a victim. Where can I ask for justice? Why did it happen?”



Such violence and discrimination incidents like May 1998 Tragedy of Humanity had occurred in Indonesia for more than 300 years. In 1740, Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) under General Governor Adriaan Valckenier has massacred 10,000 people of Chinese ethnicity in Batavia (read: Batavia was the former name of Jakarta) (Setiono, 2003).
On October 31, 1918, as the result of divide at impera imperialism political strategy by the Dutch, properties belong to people of Chinese ethnicity in Kudus were mobbed and set on fire by thousands of mobilized crowds from Mayong, Jepara, Pati, Demak, and vicinity. Hundreds of people of Chinese ethnicity were injured and 16 died.


When the Dutch lost in World War II, they destructed, looted, and destroyed a massive number of houses, shops, and hundreds of factories belong to people of Chinese ethnicity in Indonesia. Many people used the Dutch’s derogatory behaviors as examples at that moment and at a later date.

The Japanese colonized Indonesia after the Dutch’s failure. They also performed violence and discrimination. They created strong divide between Indonesian natives and the minorities. One of the massacres occurred in October 1943 was known as “Pontianak Affair,” in which 1,500 people were killed, of which 854 were of Chinese ethnicity (Purdey, 2006).

With the Japanese retreated from Indonesia, the Dutch returned as NICA soldiers (Nederlandsch Indie Civil Administration). They succeeded in their divide-and-conquer efforts. In May 1946, there were 635 Chinese people killed and some of them burnt alive, including 136 women and children in Tangerang, which is located a few kilometers west of Jakarta, and vicinity. One thousand two hundred and sixty eight houses were burned and 236 were destructed (Setiono, 2006a).

Following those incidents were more massacres, lootings, and burnings of properties, shops, factories, and vehicles in Bagan Siapi-Api, Kuningan, Majalengka, Indramayu, Pekalongan, Tegal, Purwokerto, Purbalingga, Bobotsari, Gombong, Lumajang, Jember, Malang, Lawang, Singosari, and other regions.

After Indonesia’s independence, many more violent and discrimination-based incidents kept occurring. On May 10, 1963, anarchic incidents occurred again. Started with a motorcycle bumping into a college student, provoked crowd immediately looted, destructed, and burned properties and automobiles in Bandung, which later spread to neighboring regions, such as Tasikmalaya, Garut, Cianjur, and Sukabumi.

Military operation against those who were accused, of which many of them were wrongfully, of being involved in G30S (30 September Movement) was started in 1965. Such operation had resulted in deaths millions of men and women of all ages, minorities and majorities, Muslim and non-Muslim. Millions of deaths without any fair trial. In 1967, with objective of eradicating Serawak People Guerilla Troop (Pasukan Gerilyawan Rakyat Serawak PGRS), the crowd was mobilized again to massacre the villagers of West Kalimantan, of which many of them were of Chinese ethnicity. Tens of thousands of people sought refuge in Singkawang and Pontianak.

On January 15, 1974, a protest occurred that later was known as Malari Incident started a series of lootings, burnings, and attacks toward shops and shop owners who were of Chinese ethnicity in Pasar Senen and Blok M areas, Jakarta.

We can also recall how we have noted the numerous victims of violence, who were our brothers and sisters, in the Mysterious Shootings in Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, and Activist Kidnappings 1997-1998.
Prior to the retrieval of Indonesian National Military (Tentara Nasional Indonesia or TNI) in Timor Leste by the end of 1999, mass killings, burnings, destructions, and lootings occurred. During the conflict period and TNI colonization, 125,000 Timor Leste residents were killed (Vickers, 2007).

More incidents of violence and discrimination in large or small scales, both locally and nationally, based on ethnicity and religion, political and non-political, as those previous occurrences have the potential to happen again in the future if we allow those believers in violence and discrimination to perform the gross violence against humanity.
Such incidents of violence and discrimination were orchestrated as vehicles in the tug-of-war of power among those who are power hungry. For such political goal, they utilized divide-and-conquer strategy by exploiting ethnicity, religion, race, and cultural sentiments. As a strong supporter of new Indonesia without violence, we must end such actions of gross violations against humanity.

Our ancestors have lived their lives marked with incidents of violence and discrimination, while long prior to that they had lived in harmony with people of other races and had chosen to live in Nusantara, the land prior to Indonesia’s independence. All of us long to live together in harmony and peacefully for the unity of our people.
Almost a thousand of years ago, people of Chinese ethnicity have taught many indigenous people in the pre-independence Indonesia to make bricks and roof tiles for their houses. Living together in harmony side-by-side had also allowed the transfer of all kinds of knowledge, such as how to use needle, make clothings, and plant food crops to occur seamlessly (Adam, 2002).

In togetherness, we also fostered collaborations with external sources, such as with China, to build war ships and assemble gunpowder technology. Because of such collaborations, Indonesian ancestors were able to unite pre-independence Indonesia under the ruling of Majapahit Kingdom.

With collaborations with Cheng Ho Admiral and some of Wali Songo, who were Islamic leaders of China origin, Islam set foot in pre-independence Indonesia. By the same token, Wali Songo, among which include Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si Cang), Sunan Ampel (Bong Swi Hoo), and Sunan Jati (Toh A Bo), established the first Islamic kingdom in Demak. The first sultan Raden Patah was also known as Jin Bun or Cek Ko Po (Qurtuby, 2003).
Harmonious collaborations between “indigenous” Indonesians and people of Chinese ethnicity have resulted in winning the independence war against the Dutch, which was evident in the Java War (1825-1830). In that war, Tan Djin Sing actively helped Prince of Diponegoro by contributing in the forms of expenses, horses, and training the members of the troop with martial arts (Setiono, 2006b).

Those who had gone before us had set an example of harmonious living in light of unifying modern Indonesia under the slogan “One Nation, One People, and One Language” on October 28, 1928. Sin Po newspaper was the first publication that published Indonesia Raya national anthem and helped with propaganda for using “Indonesia” as a term that substituted “Hindia Belanda,” which was the official name during Dutch colonization. Kwee Thiam Hong (Daud Budiman), Ong Khai Siang, Jong Liaw Thoan Hok, Thio Jin Kwee, and Muhammad Chai were involved in Sumpah Pemud, which was a national plead for unity (Wijayakusuma, 1999).
Liem Koen Hian, Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei, and Tan Eng Hoa were also actively involved in the drafting of Indonesia’s Fundamental Laws (Undang-Undang Dasar RI) in 1945 (Suryadinata, 2005).

The long struggle of the Republic of Indonesia to this very day has been the result of harmonious collaborations of those who call themselves “indigenous” Indonesians and people of Chinese ethnicity. Therefore, whoever lives in Indonesia or become Indonesian citizen regardless of their ethnicities and origins have the fundamental rights to receive humane treatments, without violence and discrimination whatsoever.
In the 10th anniversary of May 1998 tragedy of humanity, we urge the government of the Republic of Indonesia to thoroughly investigate the series of atrocities in May 1998 that occurred throughout Indonesia, and to bring the perpetrators to justice without any exception or reservation.

We urge the government of the Republic of Indonesia to lawfully bring to justice any individual(s) and/or group(s) that have been exploiting the issues of ethnicity, religion, race, and culture toward victims of violence and discrimination.
We invite all citizens of Indonesia and citizens of the world to take part and show solidarity in light of establishing a new Indonesia without any violence and discrimination.



Peace over the world!
[am]

Read More......

Malu Bertanya, Sesat di Jalan


"He who never made a mistake, never made a discovery." --- Samuel Smiles


Jabatan atau “title” merupakan tolok ukur yang dapat digunakan untuk menempatkan seseorang seturut dengan kemampuan dan kecakapannya dalam bidang tertentu.

Namun, tidak sedikit, orang-orang yang memiliki jabatan cukup lumayan, tidak dibarengi dengan kecakapan yang sesuai.

Mengapa demikian?

Mungkin bagi beberapa orang, terutama bagi yang telah menduduki jabatan tertentu di suatu perusahaan, belajar adalah “tabu”. Tabu untuk dilakukan, karena sering dianggap tidak pandai, atau tidak kompeten. Hal ini yang sebenarnya disalahartikan. Belajar, dianggap mencerminkan sesuatu ketidaktahuan, ataupun “kebodohan”. Padahal,


belajar adalah proses seumur hidup. Tidak memandang usia, siapa dan kapan.

Keenganan macam ini bisa dibilang “gengsi” dalam mengungkapkan ketidaktahuannya.
Yang sebenarnya wajar saja. Mana ada manusia sempurna bukan?

“Gengsi” inilah yang menjadi awal mula terciptanya sifat arogan, sombong, merasa paling hebat, memandang rendah orang lain, mengagung-agungkan dirinya sendiri atau pendapatnya sendiri. Termasuk, tidak memiliki “telinga” yang baik untuk mendengarkan orang-orang disekelilingnya, seperti rekan kerja dan bawahannya.

Seperti salah satu sahabat saya, Dinda. Ia bekerja sebagai asisten manajer kreatif di salah satu perusahaan interior terkenal. Atasannya sendiri yaitu manajer kreatif, merupakan salah satu tipe orang yang “tabu” untuk belajar. Baginya, belajar adalah untuk anak ingusan, bukan bagi seorang manajer yang telah melalui barbagai tahapan kesuksesan berkarir.

Sang manajer kreatif tersebut, tidak pernah mau disalahkan, atau diberikan masukan. Ia menganggap bahwa ialah orang yang paling tahu akan segalanya di bidangnya itu. Ia menjadi orang yang sombong dan tidak mempercayai pekerjaan bawahannya sendiri. Seringkali Dindapun tidak tahan dibuatnya. Ia hanya dijadikan seperti “kacung” yang tidak berhak menentukan pendapatnya.

Keinginan Dinda untuk mengembangkan karir di perusahaan tersebut menjadi terhambat. Terhambat bukan dikarenakan dirinya yang kurang cakap bekerja. Tapi, blokade dari atasannya sendiri. Dimana, sang atasan memang menjaga jarak tertentu sehingga kepandaian Dinda tidak terpancar gemilang keluar.

Sungguh aneh bukan. “Masa ada sih tipe orang yang tidak punya hati seperti itu”, ucap saya keheranan pada Dinda. “Wah, itu sih tidak perlu dipertanyakan, buktinya ada kan...dan yang paling aneh, adalah pernah suatu saat, atasan saya itu membuat laporan yang ternyata ada kesalahan di dalamnya. Bukannya intropeksi diri, malahan ia menyalahkan saya, karena tidak tepat memberikan informasi yang dibutuhkan pada saat penyusunan laporan tersebut. Alhasil, sayalah yang kena semprot oleh bos besar,” cerita Dinda meluapkan emosinya.

Perjalanan karir Dindapun dirasakan mentok. Dalam kasus ini, Dinda begitu mencintai pekerjaannya tersebut. Namun, disisi lain ia terpaksa harus menghadapi “flat environment”. Ia tidak merasakan bertambah pintar, justru semakin lama, ia merasa kurang mendapatkan kesempatan belajar. Setiap hari yang dilakukannya hanya pekerjaan rutin belaka. Ide-ide cemerlang yang berseliweran di otaknya tidak terlatih dan terpakai. Alias sia-sia.

Pernahkah Anda berfikir, bahwa banyak generasi muda yang kepintarannya terbuang sia-sia dikarenakan “sifat atasan” yang tidak mendukung? Banyak orang dengan jabatan tinggi ternyata tidak ada apa-apanya. Dan, banyak juga orang-orang cakap tidak terpakai kemampuannya secara maksimal, seperti halnya kemampuan Dinda.

Dari lima orang teman yang saya ajak ngobrol, termasuk Dinda, mengatakan, bahwa atasan ataupun rekan kerja mereka selalu menganggap kesalahan yang dibuat oleh bawahan atau rekan kerja, merupakan cerminan dari ketidakcakapan cara kerja. Padahal, hal itu salah besar. Kita belajar dari kesalahan. Tanpa membuat kesalahan terlebih dahulu, manusia tidak akan pernah belajar. Bagaimana menurut Anda?

Jangan pernah takut untuk salah, ini merupakan salah satu moto dari Dinda dalam menjalani pekerjaannya di kantor. Selain itu, jangan pernah bosan dan menyerah untuk mencari informasi yang dapat mengembangkan pengetahuan diri kita. Jadilah kreatif, inisiatif dan buatlah diri Anda berguna. Beberapa tips ini merupakan cara-cara yang dijalani oleh Dinda sendiri dalam menghadapi kendala “flat environment” di tempat kerjanya.

Menggali beragam informasi sama saja dengan memperkaya kecakapan diri kita sendiri. Hal ini dapat menambah nilai jual diri kita di pasaran tenaga kerja. Jika Anda tidak mendapatkannya di lingkungan tempat Anda bekerja. Terutama apabila Anda mendapati atasan atau rekan kerja yang menghambat diri Anda, jangan berdiam diri.

Segeralah mencari jalan keluar dengan mengembangkan diri Anda sendiri.

[am]

Read More......